Tuan, Saya bukan pecinta ulung. Sering kali tersandung. Gemar berikan sapa pada langit mendung. Saya juga bukan pendekar terang. Apalagi pahlawan perang. Saya cuma Puan kecil yang digenggam bimbang.

Hingga Tuan hadir; buat jiwa Puan kembali berdesir. Layaknya anila yang berhembus di musim semi. Tuan beri Saya validasi. Tenggelamkan Saya dalam lautan penuh afeksi.

Tuan sempurna. Poles indah definisi baru dari alam semesta. Jiwa menawan yang tak pantas untuk ditorehkan kecewa. Raga rupawan yang hanya pantas dapatkan bahagia.

Tuan, sesungguhnya Saya ini seorang pemuja. Beruntung, Saya temukan satu Daksa dengan sejuta pesona. Ciptaan semesta yang dengan senang hati Saya puja.

Tuan itu kesayangan Saya. Pujaan hati Saya. Objek utama dari rangkaian kata penuh damba. Pendekar terang yang berhasil menangkan hati Saya dengan tawa. Pahlawan perang yang kalahkan sejuta gundah dengan setitik asa.

Tuan hebat. Paling hebat.

Terus berlayar tinggalkan pekat.

Jangan takut.

Ada Saya yang siap peluk Tuan meski dalam kabut.

— Tertanda, Puan Kecilmu.